21 Januari 2007. Beberapa hari yang lalu gw mendengar berita menyedihkan, seorang anak kelas 3 (yang berarti sepantaran sama gw) meninggal kena demam berdarah. Beberapa hari kemudian, teman gw sejak SMP, Fitrah, juga kena penyakit itu.
Tak lama setelah itu, terdengar kabar bahwa tetangga gw, kira2 5 blok dari rumah gw, "disuntik" ama si aides. Beberapa hari setelahnya, anak guru ngaji gw yang kena (2 blok dari rumah gw), dan dua hari yang lalu, gw dengar Bu Benny, tetangga satu RT (alias seblok), yang kena.
Kejadian-kejadian itu membuat suasana di rumah gw berubah: setiap penghuni rumah –bokap, nyokap, adek, pembokat– mempersiapkan diri menghadapi datangnya serangga berdarah dingin itu: sangkakala ditiup, genderang perang ditabuhkan, pasukan disiapkan *berlebihan*. Nyokap gw ngeluarin beberapa aturan keras kek misalnya setiap penghuni yang keluar harus make lotion anti-Nyamuk, setiap kamar harus disemprot obat nyamuk, dan setiap nyamuk yang terlihat harus mati, dibunuh tanpa ampun!
Gw yang awalnya nyantai2 aja malah jadi ikut2an parno, tiap kali gw ngeliat nyamuk, gak peduli siang malam, langsung gw bantai, gw setrum, gampar, injek, potong kakinya, cabut palanya etc pokoknya gw nyamuk2 bedebah itu tidak lagi mengepakkan sayap di rumah gua.
Dan saat ini hasilnya mulai terlihat, tak ada lagi nyamuk yang berani terbang di wilayah kekuasaan gw. Tapi gw tetap waspada, ini bukanlah akhir riwayat mereka; siapa tau mereka hanya berpura-pura kabur, siapa tau mereka hanya berpura-pura menghilang, gw yakin mereka akan muncul menyerang nanti, gw yakin mereka sedang menyusun rencana jahat, rencana untuk membunuh kita.. gw yakin itu, mereka akan kembali.. waspada! waspada! *hiperbolis*
