November 2, 2006

Log pengalaman

26 Oktober 2006 : ke Serang "Kok gak jauh beda ama Bogor?"

27 Oktober 2006 : ke pantai Anyer "Mau ganti baju, di pantai gak ada WC, terpaksa ganti di mobil zzz"

28 Oktober 2006 : ke Sukabumi "Di luar dugaan! Sukabumi lebih keren dari Bogor! Makan di rumah saudara, makan sate kambing langsung didekat kandang kambingnya heuheu pengalaman berharga"

29 Oktober 2006 : Gua Siluman "Pertama kali masuk ke Gua, gak seseram gua Clements, huahaha"

October 25, 2006

Kerajaan semut di keyboardku

shit! beberapa hari ini aku merasa tidak nyaman menggunakan keyboard komputerku; beberapa tombolnya mendem sehingga sensitivity tombolnya jadi berkurang. Nekennya harus bener-bener niat kalo mau ngetik, harus sekuat tenaga! Ngetik make keyboard jadi serasa mengetik make mesin tik.

Diliputi rasa penasaran, aku pun berencana membuka keyboard yang masa garansinya sudah habis ini. Hal yang pertama gw lakukan adalah mencongkel satu persatu tombol huruf-hurufnya dengan obeng minus, mulai dari q, w, e, r, dan seterusnya. HmpH.. ternyata debu di keyboard ini sudah sebegitu tebalnya sampai bisa membentuk seperti kapas berwarna coklat. Untuk membersihkannya, aku menggunakan kuas kecil. Ketika sedang mengusap-usap keyboard (keyboardnya belum dibuka, baru dicongkel huruf-hurufnya) aku menemukan beberapa semut keluar dari lubang tempat dimana huruf keyboard ditancapkan. Tidak terlalu kaget, karena memang beberapa hari ini aku sering melihat semut yang keluar masuk kedalam keyboard gw; "Bodo amat deh, semut doang kok."

"Upacara" pembersihan pun gw lanjutkan, kali ini gw mulai membuka keyboard. Setelah berhasil mengeluarkan semua mur, aku mulai melepas bagian atas keyboard dan mulai membersihkan ’semacam karet’ yang ada di dalam keyboard; semakin banyak debu dan semut yang terlihat, gw pikir "Maklum deh, udah empat tahun gak pernah dibersihin."

setelah selesai, gw angkat karet itu dan beranjak membersihkan dasar bagian dalam keyboard itu, tapi apa yang gw lihat benar-benar membuat gw terkejut dan membanting keyboard gw! sebuah kampung semut –atau tepatnya, sebuah kerajaan– telah berdiri didalam keyboard gw, dengan ribuan penduduknya (tentu saja semuanya adalah semut) dan semacam sarang dari "debu yang berbentuk seperti kapas" yang tadi ku temukan. Ketika keyboard jatuh ke lantai, semut-semut tersebut terhampar dan tersebar di dekat kaki gw. Lalu, seolah-olah tak rela karena rumah mereka dihancurkan, mulai menggigiti kaki ku. "Auu!!" semut yang tadinya imut-imut ini mulai membuat diriku panik. Aku pun kemudian berlari sambil terus menggaruk-garuk kakiku, mengambil Baygon lalu menyemprotkannya ke semut-semut brengsek itu. Dan dalam hitungan detik, ribuan semut tewas ditanganku. Dan dibawah reruntuhan semut itu, kutemukan jawaban mengapa keyboardku terasa seperti mesin tik; ternyata karet-karet yang menghubungkan tombol huruf dengan mesin keyboardnya sudah robek dan bolong-bolong, tampaknya, para semut menjadikan karet ini sebagai gua penyimpanan telur, karena aku menemukan beberapa telur semut di sana "Menjijikan!"

Kilas

1. Setelah mengetahui Keyboardku rusak, aku segera membeli keyboard yang baru tetapi kali ini, semut boleh dilarang masuk!

2. Ada juga semut yang bisa tinggal di dalem keyboard; bukan tanah. Semut makin ‘ari makin modern aja da ah.

October 19, 2006

jurnal episode 1 : membosankan

Hari ini, tidak seperti hari-hari lainnya di bulan puasa, gw dapet kerjaan yang lumayan bikin gw sibuk; nyokap ngasih tugas ke gw untuk mengecat tembok. Lumayan deh buat ngisi waktu, daripada gw main komputer terus, bisa-bisa berjamur pan***t gw karena kelamaan duduk :D

11.05. mang enday, om gw yang tinggal di Batam, dateng kerumah gw bersama istri dan kedua anaknya. Hmm…

October 18, 2006

“besoknya kapan?”

"Wah, gak kerasa sebentar lagi Ramadhan selesai", pikir gw dalam hati. Ada senengnya juga sih, akhirnya keinginan gw untuk minum es disiang hari sebentar lagi terwujud (seolah-olah berpuasa satu tahun penuh aja :D ), dan yang paling penting, lebaran!

inilah saatnya untuk bergaya dan bergaul keluar rumah setelah sebulan mengeram didepan komputer, hehehe. Bukannya hiperbolis — melebih-lebihkan –, tapi emang itu kenyataannya. Hari-hari di bulan puasa ini kebanyakan diisi dengan bermain komputer; bukan perbanyak beribadah, seperti yang seharusnya gw lakukan. Ya Allah, bulan puasa tahun ini gw bener-bener males untuk keluar kamar gw, aku cinta kamarku — apalagi setelah komputer dikamar ini dikasih koneksi internet, makin cinta dah! –.

Gw jadi sering diomelin nyokap karena terlalu lama duduk didepan komputer, ditambah lagi perut gw jadi semakin gendut (68 kg? swt dah -_-"). Komputer juga bikin gw males taraweh ke masjid, kalo nyokap gw bilang "Ricky, ke masjid sana!", biasanya gw hanya menjawab "besok, ma!".

Tapi ada baiknya juga kok, setidaknya peringkat suntingan (editan..) gw di wikipedia meningkat karena seringnya gw online, peringkat ke-11 nih heuheu. Pengetahuan gw juga kayaknya nambah nih, boleh di tes! hehehe

  • Duduk terlalu banyak ternyata dapat membuat perut jadi gendut, walau sedang berpuasa sekalipun.
  • Internet jadi pedang bermata dua untuk gw, satu sisi menambah pengetahuan gw, di sisi lain membuat gw keluar dari lingkup kehidupan bermasyarakat (halah bahasanya :D )
  • "Besok tobat ah!!", besoknya kapan? entahlah.. semoga Allah mengizinkan

October 17, 2006

Membosankan

Benar-benar minggu yang tidak melelahkan, seharian hanya duduk didepan komputer.

October 3, 2006

Kericuhan di Warnet, pembantaian siswa SMA

S_pukul3 2 Oktober, Ini hari pertama aku masuk sekolah sejak libur panjang selesai. Untuk menghilangkan penat dan bosan (karena kelamaan di rumah), sepulang sekolah aku berniat mampir ke BaseCamp, sebuah game center yang letaknya persis di samping sekolahku. Namun sampai disana, bukannya kesenangan menghampiriku. Yang ada hanya kericuhan.

Cerita dimulai ketika kami, anak-anak basecamp, bersama-sama bermain game Warcraft DoTA. Awalnya game berlangsung seru, dimana para pemain menikmati permainannya. Tapi entah siapa yang memulai, pertengkaran-pertengkaran kecil muncul di tengah permainan. Pertengkaran itu terus berlanjut, walaupun hanya berupa tulisan-tulisan berbentuk cacian dan hinaan dalam kolom chat. Sampai suatu saat, Acong, seorang siswa sebuah SMA swasta, mulai berteriak-teriak marah di depan komputernya sendiri. Dia terus menyebut-nyebut nama buyut-buyutnya ("Anjing! Monyet! bangsat! diem lo!") berkali-kali. Rupanya dia mulai merasa terganggu dan merasa ritme permainannya hilang sehingga dia kalah, karena hinaan dan cacian bertubi-tubi untuknya di kolom chat; dia menyalahkan pemain lain atas kekalahannya di dalam game.

Awalnya aku tak peduli –aku tak merasa berbuat kesalahan apapun, aku hanya terdiam dari tadi–. Tapi tak lama kemudian, kemarahan si Acong terasa mulai menggangguku. Dia memukul-mukul meja, menciptakan suara bising yang tidak menyenangkan dan mengganggu permainanku; dan tampaknya, beberapa orang merasakan hal yang sama.

Akhirnya setelah beberapa menit munculah seorang mahasiswa berbadan tinggi dan tegap. Dengan tangan kanannya yang kekar dan berotot dia mulai mencengkram kerah baju si Acong.

"Hei! bacot kali kau," kata si Mahasiswa dengan logat campuran batak-betawi. Tetapi ternyata si Acong tidak menerima diperlakukan seperti itu; dia mulai memberontak dan melawan untuk dapat lepas dari cengkraman tangan si Mahasiswa. Si Mahasiswa pun tak mau kalah, tangan kirinya mulai mengambil ancang-ancang meninju Acong. Suasana BaseCamp menjadi ricuh dan ribut; sebagian meneriaki Acong dan sebagian mendukung si Mahasiswa.

Duagh! Ternyata si Mahasiswa memutuskan untuk menutup mulut Acong dengan tinjunya — sebuah keputusan buruk yang membuat suasana menjadi lebih buruk –. Dua teman akrab Acong yang merasa tak terima temannya dipukuli, mulai maju membantu Acong. Sekarang balik si Mahasiswa yang berteriak-teriak menantang mereka semua; dia mulai memukul-mukul meja dan mulai menyebutkan nama cucu-cucunya ("tai! babi! monyet lo semua!") persis seperti kelakuan si Acong yang barusan saja dia tonjok. Beberapa pemain segera berubah status menjadi penonton sementara sisanya terus melanjutkan permainan seolah tak terjadi apa-apa.

Teriakan si Mahasiswa tersebut kemudian berhenti setelah dia dilepari sebuah kursi plastik tepat di mukanya; tetapi ternyata lemparan kursi plastik tersebut hanya membuat kemarahannya memuncak. Dan kali ini, bukan meja saja yang dia pukul, dia mulai memukuli si Acong dan kedua temannya.

Pembantaian pun terjadi, Acong dan kedua temannya jatuh dalam satu pukulan dahsyat yang dikeluarkan si Mahasiswa. Ternyata banyak yang tak senang dengan kelakuan Mahasiswa yang membantai anak SMA tersebut; beberapa orang anak SMA yang sesekolah dengan si Acong dkk langsung terjun ke medan pertempuran.

Suasana Basecamp kini menjadi sangat ricuh. Beberapa teman si Acong menjadikan alat-alat disekitar mereka menjadi senjata untuk menghajar si Mahasiswa; keyboard dijadikan pentungan, Mouse dijadikan Kople, kursi dijadikan tameng dan lain lain. Dalam sekejap sebuah pertempuran besar terjadi : seorang Mahasiswa melawan beberapa anak SMA, kedua pihak diliputi kemarahan.

Aku mulai sadar bahwa situasi semakin tak terkendali. Karena aku tak ada hubungan dengan si Acong dan Mahasiswa, akupun berusaha menghindari pertempuran. Dalam perjalanan menuju pintu keluar, kepalaku sempat terserempet sebuah CD nyasar. CD nyasar? ya! beberapa anak yang terkenal sableng mulai melempar-lempar CD yang mereka miliki, untuk menghebohkan suasana katanya. Gila!

Kilatan-kilatan CD pun mulai terlihat di sekelilingku, begitu juga dengan suaranya.
"swing.. swezz.. swiiing," suara Cd-Cd berterbanganan
"brak..! brak!," tampaknya ini suara hantaman keyboard ke tubuh si Mahasiswa.
"Woi anjing! sini lu jing!," teriakan si Mahasiswa
"Meooong… gedubrak!!," sebuah CPU jatuh ke lantai
"Prak!! klutuk.. klutuk," suara keyboard pecah, huruf-hurufnya jatuh ke lantai
"Duargh..!," monitor jatuh dan meledak.

Setelah melewati beberapa rintangan, akhirnya aku berhasil keluar dari warnet yang membara tersebut. Setelah beberapa menit, keadaan mulai tampak agak tenang walaupun masih terdengar teriakan-teriakan kebun binatang dari mulut si Mahasiswa. Polisi dan PMR dari sekolahku pun datang dan mulai menahan tersangka dan menolong korban.

Si_o_on Berikut rincian korban pertempuran 2 Oktober
*Tiga orang pingsan (mereka adalah Acong dan kedua temannya,Joko dan Sitorus)
*Satu orang babak belur (si Mahasiswa)
*Seekor kucing tewas tertimpa CPU
*Seekor anjing menjadi korban salah pukul

Ah..

September 28, 2006

kompi laknad

aaakh!! kenapa gak bisa liat bulbo di FS nih? akh.. komputer error laknad sia! akh.. gak bisa liat wiki pula! akh.. cuma bisa main game doang

akh.. akh.. akh..

September 26, 2006

a Dog / menggigit / me

Pukul 19.25, ibu menyuruhku pergi ke masjid untuk menjalankan ibadah salat tarawih. Tapi entah kenapa, rasanya aku enggan sekali pergi, perasaanku tidak enak kala itu. Tetapi ibuku terus memaksaku untuk pergi. Akhirnya, dengan setengah hati, aku menuruti keinginan ibuku. Aku segera berwudhu dan memakai sarung, kemudian pergi dengan langkah gontai.

Mesjid ini letaknya cukup jauh, butuh waktu 10 menit untuk sampai ke sana.Setelah berjalan beberapa menit, terdengar sayup-sayup suara ceramah dikejauhan. "Wah, ternyata aku sudah terlambat", pikirku. Secara refleks aku mulai mempercepat langkahku. Tetapi, kira-kira 500 meter dari depan pintu gerbang mesjid, aku melihat dua anjing tetangga yang terkenal akan keganasannya: si Tigri dan si Bitty.

ImagesSi Tigri, sesuai namanya, bermuka seperti anjing tapi ganasnya seperti macan afrika kekurangan makan. Tak jauh berbeda dengan istrinya, si Bitty (sekilas terdengar seperti bithcy? konon namanya berasal dari bahasa inggris ‘bite’ yang artinya ‘gigit’). Keduanya memang pasangan serasi, mereka memiliki hobby yang sama; unjuk gigi (baca: memamerkan gigi setajam pisau), mengejar orang, mengigit orang.

Aku pun bingung campur takut, "haruskah aku berhenti dan kembali kerumah, atau terus jalan menerobos kedua anjing ini?". Entah apa pikiranku saat itu, aku memilih mencoba menerobos anjing tersebut. Dengan mengendap-endap aku berjalan (kedua anjing sepertinya sedang asik menjilati satu sama lain; "dasar anjing mesum!"), kini aku sejajar dengan mereka (tak tahu apa yang mereka lakukan, aku tak berani menolehkan wajahku), dan akhirnya aku berhasil melewati mereka!

hihihi.. dengan perasaan senang aku berjalan, kali ini tanpa mengendap-endap karena aku merasa kedua anjing mesum tersebut terlalu ‘asik’ untuk menyadari kehadiranku. Kemudian, secara tiba-tiba, sebuah suara terdengar dari belakangku, "guk!". Ku toleh kebelakang, ku lihat sosok gelap berkaki empat lari ke arahku; "anjing!". Segera ku angkat sarung dan mengambil langkah kaki seribu "aaaa!". "Brugh!" si anjing ternyata berhasil menerjangku (ku kenali dia, si Bitty!). Aku terjatuh, sarungku di gigitnya. Secara refleks ku buka sarungku dan ku lilitkan ke kepala si anjing, kemudian lari secepat kilat; tanpa sarung.

bencana belum berakhir sampai disitu, dengan menggunakan celana kolor aku terus berlari ke arah masjid (ceramahnya belum selesai). Sekilas ku toleh ke belakang, ternyata si Tigri, lawan mesum si Bitty, gantian mengejarku. Aku bingung sekali, apakah sebaiknya aku masuk ke dalam mesjid, tanpa penutup aurat? mak, mau ku taruh dimana mukaku? Daripada malu, aku lebih memilih untuk lari memutar kompleks untuk kembali kerumahku.Tetapi tak ku sangka, dalam beberapa menit si Tigri berhasil mengejarku! (mungkin efek "obat kuat"nya belum habis, entahlah). Lalu ia meloncat dan mulai menggigitku..

"Krauk!"

July 8, 2006

Men(g)e(n)taskan Kemiskinan

"The history of poverty is the history that they want to make history, not poverty!" Sebagai agenda kemanusiaan terbesar abad ini, target pengentasan kemiskinan (Zero Poverty) tahun 2015 amat tidak realistis.

Komitmen global untuk memerangi kemiskinan –program utama tujuan pembangunan abad milenium (Millenium Develompment Goals/MDGs) dideklarasikan 189 negara anggota PBB tahun 2000– terbukti hebat di atas kertas, tetapi tidak pada realitas (Bunker Roy, IHT, 14/9/2005). Mengapa?

Agenda MDGs tidak menyentuh penyebab sistematik akar kemiskinan global, yakni masih berlangsungnya penindasan, eksploitasi, dan ketidakadilan. Komitmen negara maju sebatas lips service. Elite politik memanipulasi MDGs sebagai kampanye mempertahankan status quo, ketimbangan sekuat tenaga menumpas wabah kemiskinan.

Akar Kemiskinan

Vandana Siva (Ecologist, Summer, 2005) menulis,

if we are serious about ending poverty, we have to be serious about ending the systems for wealth creation which create poverty by robbing the poor of their resources, livehoods, and incomes.

(Jika kita betul-betul ingin mengakhiri kemiskinan <di dunia>, kita harus serius untuk menghapus sistem untuk mendapatkan kemakmuran yang berakibat pada timbulnya kemiskinan karena menyerap habis sumber daya, kehidupan, dan pendapatan rakyat kecil)

Menurut Siva, rakyat miskin tidak mati karena minimnya pendapatan di bawah satu atau dua dolar AS per hari, tetapi mereka sekarat karena tidak memiliki akses terhadap sumber daya. Seseorang menjadi miskin karena tidak mendapat hak-haknya sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup yang paling mendasar (basic need). mereka tidak memiliki akses terhadap sumber daya utama kehidupan, seperti air dan tanah yang di kuasai mega korporasi dan industri raksasa.

Problema kemiskinan tidak bisa di lepaskan dari sistem ekonomi politik global yang didominasi paham neoliberal.

Memacu pertumbuhan ekonomi tinggi-tinggi tidak seketika mengurangi jumlah orang miskin. Pertumbuhan tidak serta-merta menciptakan kesejahteraan dan pemerataan kemakmuran, tetapi justru menciptakan jurang ketimpangan. sayang, fakta ini selalu di abaikan.

UntitledAgenda reformasi ekonomi internasional yang bertumpu pada kedaulatan pasar, turut menyumbang pemiskinan global. melalui fatwa perdagangan bebas, berbagai kebijakan tidak adil terus di langgengkan. Negara maju untung besar. Negara berkembang di daratan Afrika dan Asia terkapar. Kebijakan meningkatkan ekspor  dan menarik investor terlihat menggiurkan. Akan tetapi, negara berkembang harus membayar harga mahal, di paksa mencabut subsidi berbagai sektor vital kehidupan yang menopang hajar hidup rakyat

Utang luar negeri memiliki andil besar dalam pemiskinan. Seperti parasit, jerat kapital ini terus menghisap tubuh sang tuan. There is no free luch, kata orang di balik sekenario utang, tersembunyi setumpuk kepentingan, menjadikan utang sebagai alat pengontrol kebijakan. Negara berkembang tak berkutik, meneken kontrak dengan IMF, World Bank, dan kelompok negara maju (G8) untuk melakukan privatisasi dan pencabutan subsidi publik yang merupakan pilar standard hidup rakyat. Hasilnya, busung lapar!

Alih-alih memerangi kemiskinan, yang terjadi justru melestarikan kemiskinan berkelanjutan (sustainable poverty). Bukan mengentaskan, tetapi menetaskan!

H. IMAM CAHYONO

Koordinator Riset al Maun Institute, Jakarta

Kompas 8 Juli 2006.

Link

Global Poverty

June 22, 2006

saya kecewa

Ceritanya kemaren, gw masang koneksi di rumah. Dari iklannya sih, gw berhak mendapatkan sebuah program gratis (kek game etc etc). kata si otoy (yg punya warnet) gw cukup perlu bawa hard disk ke warnetnya, untuk di installin, dengan syarat : harus malem2, karena yg download-in (namanya ewing) baru bisa dateng jam 9 ke atas.

akhirnya jam 10 gw bela2in pergi ke warnet… sampe disana, ternyata si ewing udah ada, tapi dia lagi sibuk ngebenerin kompi! terpaksa deh gw nunggu ampe tuh kompi selesai di benerin… lama gila!!

akhirnya setelah 1/2 jam nunggu, si ewing selesai juga ngebenerin kompi-nya. langsung gw samper dan request download game, tapi apa jawabannya?? "wah lo kok cuma bawa hard disknya doang? kalo mau di download-in, lo harus bawa sama CPU nya…" @_@

CPU!! edan2, jadi maksudnya gw harus bawa CPU yg gedenya segede gaban dan beratnya seberat gaban itu?! (btw, gaban itu apa ya??) malem2?! zzzz gak deh