2 Oktober, Ini hari pertama aku masuk sekolah sejak libur panjang selesai. Untuk menghilangkan penat dan bosan (karena kelamaan di rumah), sepulang sekolah aku berniat mampir ke BaseCamp, sebuah game center yang letaknya persis di samping sekolahku. Namun sampai disana, bukannya kesenangan menghampiriku. Yang ada hanya kericuhan.
Cerita dimulai ketika kami, anak-anak basecamp, bersama-sama bermain game Warcraft DoTA. Awalnya game berlangsung seru, dimana para pemain menikmati permainannya. Tapi entah siapa yang memulai, pertengkaran-pertengkaran kecil muncul di tengah permainan. Pertengkaran itu terus berlanjut, walaupun hanya berupa tulisan-tulisan berbentuk cacian dan hinaan dalam kolom chat. Sampai suatu saat, Acong, seorang siswa sebuah SMA swasta, mulai berteriak-teriak marah di depan komputernya sendiri. Dia terus menyebut-nyebut nama buyut-buyutnya ("Anjing! Monyet! bangsat! diem lo!") berkali-kali. Rupanya dia mulai merasa terganggu dan merasa ritme permainannya hilang sehingga dia kalah, karena hinaan dan cacian bertubi-tubi untuknya di kolom chat; dia menyalahkan pemain lain atas kekalahannya di dalam game.
Awalnya aku tak peduli –aku tak merasa berbuat kesalahan apapun, aku hanya terdiam dari tadi–. Tapi tak lama kemudian, kemarahan si Acong terasa mulai menggangguku. Dia memukul-mukul meja, menciptakan suara bising yang tidak menyenangkan dan mengganggu permainanku; dan tampaknya, beberapa orang merasakan hal yang sama.
Akhirnya setelah beberapa menit munculah seorang mahasiswa berbadan tinggi dan tegap. Dengan tangan kanannya yang kekar dan berotot dia mulai mencengkram kerah baju si Acong.
"Hei! bacot kali kau," kata si Mahasiswa dengan logat campuran batak-betawi. Tetapi ternyata si Acong tidak menerima diperlakukan seperti itu; dia mulai memberontak dan melawan untuk dapat lepas dari cengkraman tangan si Mahasiswa. Si Mahasiswa pun tak mau kalah, tangan kirinya mulai mengambil ancang-ancang meninju Acong. Suasana BaseCamp menjadi ricuh dan ribut; sebagian meneriaki Acong dan sebagian mendukung si Mahasiswa.
Duagh! Ternyata si Mahasiswa memutuskan untuk menutup mulut Acong dengan tinjunya — sebuah keputusan buruk yang membuat suasana menjadi lebih buruk –. Dua teman akrab Acong yang merasa tak terima temannya dipukuli, mulai maju membantu Acong. Sekarang balik si Mahasiswa yang berteriak-teriak menantang mereka semua; dia mulai memukul-mukul meja dan mulai menyebutkan nama cucu-cucunya ("tai! babi! monyet lo semua!") persis seperti kelakuan si Acong yang barusan saja dia tonjok. Beberapa pemain segera berubah status menjadi penonton sementara sisanya terus melanjutkan permainan seolah tak terjadi apa-apa.
Teriakan si Mahasiswa tersebut kemudian berhenti setelah dia dilepari sebuah kursi plastik tepat di mukanya; tetapi ternyata lemparan kursi plastik tersebut hanya membuat kemarahannya memuncak. Dan kali ini, bukan meja saja yang dia pukul, dia mulai memukuli si Acong dan kedua temannya.
Pembantaian pun terjadi, Acong dan kedua temannya jatuh dalam satu pukulan dahsyat yang dikeluarkan si Mahasiswa. Ternyata banyak yang tak senang dengan kelakuan Mahasiswa yang membantai anak SMA tersebut; beberapa orang anak SMA yang sesekolah dengan si Acong dkk langsung terjun ke medan pertempuran.
Suasana Basecamp kini menjadi sangat ricuh. Beberapa teman si Acong menjadikan alat-alat disekitar mereka menjadi senjata untuk menghajar si Mahasiswa; keyboard dijadikan pentungan, Mouse dijadikan Kople, kursi dijadikan tameng dan lain lain. Dalam sekejap sebuah pertempuran besar terjadi : seorang Mahasiswa melawan beberapa anak SMA, kedua pihak diliputi kemarahan.
Aku mulai sadar bahwa situasi semakin tak terkendali. Karena aku tak ada hubungan dengan si Acong dan Mahasiswa, akupun berusaha menghindari pertempuran. Dalam perjalanan menuju pintu keluar, kepalaku sempat terserempet sebuah CD nyasar. CD nyasar? ya! beberapa anak yang terkenal sableng mulai melempar-lempar CD yang mereka miliki, untuk menghebohkan suasana katanya. Gila!
Kilatan-kilatan CD pun mulai terlihat di sekelilingku, begitu juga dengan suaranya.
"swing.. swezz.. swiiing," suara Cd-Cd berterbanganan
"brak..! brak!," tampaknya ini suara hantaman keyboard ke tubuh si Mahasiswa.
"Woi anjing! sini lu jing!," teriakan si Mahasiswa
"Meooong… gedubrak!!," sebuah CPU jatuh ke lantai
"Prak!! klutuk.. klutuk," suara keyboard pecah, huruf-hurufnya jatuh ke lantai
"Duargh..!," monitor jatuh dan meledak.
Setelah melewati beberapa rintangan, akhirnya aku berhasil keluar dari warnet yang membara tersebut. Setelah beberapa menit, keadaan mulai tampak agak tenang walaupun masih terdengar teriakan-teriakan kebun binatang dari mulut si Mahasiswa. Polisi dan PMR dari sekolahku pun datang dan mulai menahan tersangka dan menolong korban.
Berikut rincian korban pertempuran 2 Oktober
*Tiga orang pingsan (mereka adalah Acong dan kedua temannya,Joko dan Sitorus)
*Satu orang babak belur (si Mahasiswa)
*Seekor kucing tewas tertimpa CPU
*Seekor anjing menjadi korban salah pukul
Ah..